Dalam kisah salah urus fiskal yang membuat masyarakat bingung, Dewan Kota Birmingham, otoritas lokal terbesar di Eropa, mendapat kecaman karena menghamburkan hampir £10 juta untuk jalan raya sepeda yang tidak banyak gunanya sejak diresmikan pada tahun 2019. Hal ini terjadi setelah pemberitahuan pasal 114 yang dikeluarkan oleh dewan yang dikelola Partai Buruh, yang secara efektif mengakui bahwa dewan tersebut tidak dapat memenuhi kewajiban finansialnya, termasuk klaim gaji yang setara sebesar £760 juta.
Jalur sepeda, yang membentang sepanjang 2,5 mil di sepanjang A34, salah satu rute komuter tersibuk di Birmingham, tidak hanya kurang dimanfaatkan tetapi juga memperburuk kemacetan lalu lintas. Jalur tersebut telah mendorong jalur bus semakin jauh ke badan jalan, sehingga hanya menyisakan satu jalur untuk mobil di beberapa ruas dan menyebabkan kemacetan pada jam-jam sibuk. Belum lagi dana sebesar £16 juta yang dihabiskan untuk merelokasi depo bus National Express yang hanya berjarak 300 meter, yang seolah-olah ditujukan untuk Pesta Olahraga Persemakmuran tahun 2022—sebuah fasilitas yang pada akhirnya diubah menjadi perumahan yang terjangkau.
Paralel Port Phillip
Meskipun kasus Birmingham menjadi sebuah kisah peringatan tentang bagaimana tidak mengelola dana publik, kasus ini juga bergema di belahan dunia lain di Kota Port Phillip. Sama seperti pemerintah Inggris, pemerintah lokal dan negara bagian di Port Phillip juga mengeluarkan banyak uang untuk jalur sepeda yang masih terlihat kosong. Meskipun mengeluarkan biaya finansial yang besar, jalur-jalur tersebut gagal menarik banyak pesepeda, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas proyek-proyek tersebut dalam mendorong transportasi berkelanjutan.
Kota Port Phillip, yang terkenal dengan pantainya yang indah dan dunia seni yang semarak, telah mendorong moda transportasi yang lebih ramah lingkungan sebagai bagian dari tujuan keberlanjutannya yang lebih luas. Namun, jalur sepeda yang kurang dimanfaatkan merupakan bukti adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan dan hasil praktis. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan apakah proyek-proyek tersebut merupakan cara terbaik untuk memanfaatkan uang pajak, terutama ketika isu-isu mendesak lainnya seperti keterjangkauan perumahan dan transportasi umum dapat memberikan pengembalian investasi dan utilitas yang lebih baik kepada konstituen yang uangnya telah dibelanjakan.
Permasalahan yang terjadi di Birmingham dan Port Phillip merupakan gejala dari permasalahan yang lebih besar: tantangan dalam melakukan transisi secara efektif ke moda transportasi berkelanjutan. Meskipun niat di balik penyediaan ruang bagi pengendara sepeda dan pejalan kaki patut dipuji, namun pelaksanaan dan keterlibatan masyarakat masih jauh dari harapan.
Di kedua kota tersebut, pemerintah daerah tampaknya mengabaikan kebutuhan dan perilaku mendesak para konstituennya. Hasilnya adalah semacam perencanaan kota yang tampak lebih didorong oleh ideologi daripada praktis, didanai oleh uang publik yang sebaiknya dibelanjakan di tempat lain.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
Bagi kota-kota seperti Birmingham dan Port Phillip, jalan menuju keberlanjutan finansial dan lingkungan tampaknya penuh dengan perencanaan yang buruk dan ketidakbertanggungjawaban fiskal. Ketika kedua kota tersebut bergulat dengan tantangannya masing-masing, ada satu hal yang jelas: diperlukan pendekatan yang lebih berbeda, yaitu pendekatan yang menyeimbangkan dorongan untuk keberlanjutan dengan tanggung jawab fiskal dan kebutuhan masyarakat.
Kisah dua kota menjadi pengingat bahwa niat baik saja tidak cukup. Proyek-proyek publik, terutama yang bertujuan untuk mengubah perilaku jangka panjang seperti penggunaan mobil, tidak hanya memerlukan investasi tetapi juga pemahaman mendalam tentang komunitas yang ingin mereka layani. Jika tidak, mereka berisiko menjadi monumen mahal bagi kebodohan dewan/pemerintah.